Sabtu, 24 Maret 2012

Bahasa dan Berbahasa


Bahasa dan berbahasa adalah dua hal yang berbeda. Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi, sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi itu. Pada bagian awal telah disebutkan bahwa bahasa adalah objek kajian linguistik, sedangkan berbahasa objek kajian psikologi.
1.      Hakikat Bahasa
Para pakar linguistik deskriftif biasanya mendefenisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbiter, yang lazim ditambah dengan yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri. (Chaer, 1994). Bagian utama dari defenisi di atas menyatakan hakikat bahasa itu, dan bagian tambahan menyatakan apa fungsi bahasa itu.
2.      Asal-Usul Bahasa
Banyak teori telah dilontarkan para pakar mengenai asal usul bahasa ini. Beberapa diantanya dibicarakan di bawah ini:
F.B Condillac seorang filsuf bangsa Perancis berpendapat bahwa bahasa itu berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh perasaan emosi yang kuat. Kemudian teriakan-teriakan ini berubah menjadi bunyi-bunyi yang bermakna dan lama kelamaan semakin panjang dan rumit. Menurut Von Hender bahasa itu terjadi dari proses onomatope, yaitu peniruan bunyi alam. Bunyi-bunyi alam yang ditiru ini merupakan benih yang yang tumbuh menjadi bahasa sebagai akibat dari dorongan hati yang sangat kuat untuk berkomunikasi.
Von Schlegel, seorang ahli filsafat bangsa Jerman, berpendapat bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia ini tidak mungin bersumber dari satu bahasa. Asal-usul bahasa itu sangat berlainan tergantung pada faktor-faktor yang mengatur tumbuhnya bahasa itu.
Brooks (1975) memperkenalkan satu teori mengenai asal-usul bahasa yang sejalan dengan perkembangan psikolinguistik dewasa. Menurut Brooks bahasa itu lahir pada waktu yang sama dengan kelahiran manusia. Menurut hipotesis Brooks bahasa pada mulanya berbentuk bunyi-bunyi tetap untuk menggantikan atau sebagai symbol bagi benda, hal, atau kejadian tetap disekitar yang dekat dengan bunyi-bunyian itu. Kemudian bunyi-bunyi itu dipakai bersama oleh orang-orang ditempat itu.
Sejalan dengan Brooks, Philip Lieberman (1975) juga mengemukakan satu teori mengenai asal usul bahasa. Kalau Brooks merujuk pada hipotesis nurani yang berasal dari Descrartes, maka Liberman melangkah jauh kebelakang. Menurut Liberman bahasa lahir secara evolusi sebagai yang dirumuskan oleh Darwin (1859) dengan teori evolusinya.
3.      Fungsi Bahasa
Jawaban tradisional atas pernyataan apakah fungsi bahasa adalah bahwa bahasa itu adalah alat interaksi sosial, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau perasaan (Chear,1995). Wardhaugh (1972) seorang pakar sosiolinguistik juga mengatakan bahwa fungsi bahasa adalah alat komunikasi manusia, baik lisan maupun tulisan. Menurut Kinneavy ada lima fungsi dasar bahasa yaitu: fungsi eksfresi, fungsi informasi, fungsi eksplorasi, fungsi persuasi, dan fungsi entertainment. (Michel, 1967:51).
Kelima fungsi dasar ini mewadahi konsep bahwa bahasa alat untuk melahirkan ungkapan-ungkapan batin yang ingin disampaikan seorang penutur kepada orang lain. Fungsi informative adalah fungsi untuk menyampaikan pesan atau amanat kepada orang lain. Fungsi eksplorasi adalah penggunaan bahasa untuk menjelaskan suatu hal. Fungsi persuasi adalah penggunaan bahasa yang bersifat mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk melakukan atau tudak tidak melakukan sesuatu secara baik-baik. Fungsi entertaimen adalah penggunaan bahasa dengan maksud menghibur, menyenangkan, atau memuaskan perasaan batin.
4.      Proses Berbahasa
Berbahasa merupakan gabungan berurutan antara dua proses yaitu proses produktif dan proses reseptif. Proses produktif berlangsung pada diri pembicara yang menghasilkan kode-kode bahasa yang bermakna dan berguna. Sedangkan proses reseptif berlangsung pada diri pendengar yang menerima kode-kode bahasa yang bermakna dan berguna yang disampaikan oleh pembicara melalui alat-alat pendengar.
Proses produksi atau proses rancangan berbahasa disebut encode. Sedangkan proses penerimaan, perekaman, dan pemahaman disebut proses decode.
Proses decode dimulai dengan decode fonologi, yakni penerimaan unsure-unsur bunyi melalui telinga pendengar. Kemudian dilanjutkan dengan encode gramatikal, yakni pemahaman bunyi itu sebagai satuan gramatikal. Lalu diakhiri dengan decode semantic, yakni pemahaman akan konsep-konsep atau ide-ide yang dibawa oleh kode tersebut Proses decode ini terjadi dalam otak pendengar.
Pesan encode dan proses decode dari pesan, amanat, atau perasaan, terangkum dalam suatu konsep yang disebut poses komunikasi.
Proses berbahasa produktif dan proses berbahasa reseptif dapat dianalisis dengan pendekatan prilaku(behaviorisme)dan pendekatan kognitif. Proses produktif dimulai tahap pemunculan ide, gagasan, perasaan, atau apa saja yang ada dalam pemikiran seorang pembicara. Tahap awal ini disebut tahap idealisasi, yang selanjutnya disambung dengan tahap perancangan, yakni tahap pemilihan bentuk-bentuk bahasa untuk mewadahi gagasan, ide, atau perasaan yang akan disampaikan. Perancangan ini meliputi komponen bahasa sintaksis, semantic, dan fonologi. Berikutnya adalah tahap pelaksanaan. Pada tahap ini secara psikologi orang melahirkan kode verbal atau secara linguistic orang melahirkan arus ujaran.
Proses reseptif dimulai dengan tahapan rekognisi atau pengenalan akan arus ujaran yang disampaikan. Mengenal (rekognisi) berarti menimbulkan kembali kesan yang pernah ada. Tahap pengenalan dilanjutkan dengan tahap identifikasi, yaitu proses mental yang dapat membedakan bunyi yang kontrastif, frase, kalimat, teks, dan sebagainya. Setelah tahap identifikasi ini dilalui, maka sampailah pada tahap pemahaman, sebagai akhir dari suatu proses berbahasa.
 Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik : Kajian Teoretik. Jakarta : PT Rineka Cipta

Sejarah Perkembangan Psikolinguistik


Pada awal perkembangannya, psikolinguistik bermula dari adanya pakar linguistik yang berminat pada psikologi dan adanya pakar psikologi yang berkecimpung dalam linguistik. Dilanjutkan dengan adanya kerja sama antara pakar linguistik dan pakar psikologi, dan kemudian muncullah pakar-pakar psikolinguistik sebagai disiplin mandiri.

1.      Psikologi dalam Linguistik
Dalam sejarahnya kajian linguistik ada sejumlah pakar linguistik yang menaruh perhatian besar pada psikologi. Diantara mereka yang diketengahkan adalah Wilhelm Von Humboldt, Ferdinand de Saussure, Edward Sapir, Leonard Bloomfield, dan Otto Jespersen.
Von Humboldt (1767-1835), pakar linguistik berkebangsaan Jerman, telah mencoba mengkaji hubungan antara bahasa dengan pemikiran manusia. Caranya dengan membandingkan tata bahasa dari bahasa-bahasa yang berlainan dengan tabiat-tabiat bangsa-bangsa penutur bahasa itu.
Ferdinand de Saussure (1858-1913), pakar linguistik berkebangsaan Swiss, telah berusaha menerangkan apa sebenarnya bahasa itu (linguistik), dan bagaimana keadaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). Beliau memperkenalkan tiga istilah tentang bahasa yaitu langage (bahasa umumnya bersifat abstrak), Langue (bahasa tertentu yang bersifat abstrak), parole (bahasa sebagai tuturan konkret).
Edward Sapir (1884-1939), pakar linguistik dan antropologi bangsa Amerika, telah mengikutsertakan psikologi dalam pengkajian bahasa. Menurut Sapir, psikolinguistik dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam pengkajian bahasa. Beliau juga mencoba mengkaji hubungan bahasa dengan pemikiran. Dari kajian itu beliau berkesimpulan bahwa bahasa terutama strukturnya merupakan unsur yang menetukan struktur pemikiran manusia.
Leonard Bloomfield (1887-1949), pakar linguistik bangsa Amerika dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang saling bertentangan, yaitu mentalisme dan behaviorisme. Pada mulanya beliau menganalisis bahasa menurut prinsip-prinsip mentalisme yang sejalan dengan teori psikologi Wundt). Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan dari adanya tekanan emosi yang sangat kuat. Kemudian, sejak tahun 1925, Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt, lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teori bahasanya yang kini dikenal sebagai linguistik structural atau linguistik taksonomi.
Otto Jespersen, Pakar linguistik berkebangsaan Denmark, telah menganalisis bahasa menurut pikologi mentalistik yang juga sedikit berbau behaviorisme. Jespersen berpendapat bahwa bahasa bukanlah satu wujud dalam pengertian satu benda seperti sebuah meja atau seekor kucing melainkan merupakan satu fungsi manusia sebagai lambing-lambang di dalam otak yang melambangkan pikiran atau yang membangkitkan pikiran itu. Beliau juga berpendapat bahwa berkomunikasi haris dilihat dari sudut perilaku.

2.      Linguistik dalam Psikologi
Dalam sejarahnya perkembangan psikologi ada sejumlah pakar psikologi ada sejumlah pakar psikologi yang menaruh perhatian pada linguistik. Diantara mereka yang patut diketengahkan adalh John Dewey, Karl Buchler, Wundt, Watson, dan Weiss.
John Dewey (1859-1952), pakar psikologi berkebangsaan Amerika, seorang empirisme murni. Beliau mengkaji behasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguisti kanak-kanak berdasarkan prinsip-prinsip psikologi. Dengan cara inilah maka, berdasarkan prinsip-prinsip psikologi akan dapat ditentukan hubungan antara kata-kata adverbial dan preposisidistu pihak dengan kata-kata berkelas nomina dan adjektiva dipihak lain. Jadi, dengan pengkajian kelas kata berdasarkan pemahaman kanak-kanak kita dapat menetukan kecendrungan akal (mental) kanak-kanak yang dihubungkan dengan perbedaan-perbedaan linguistik. Pengkajian seperti ini, menurut Dewey akan memberikan bantuan yang besar kepada psikologi bahasa pada umumnya.
Karl Buchler, pakar linguistik berkebanngsaan Jerman, Dalam bukunya Sprach Theorie (1934), beliau menyatakan bahwa bahasa manusia itu mempunyai tiga fungsi yang disebut Kungabe (kemudian disebut Ausdruck) Appell (yang sebelumnya disebut Auslosung), dan Darstellung. Yang dimaksud dengan Kungabe adalh tindakan komunikatif yang diwujudkan dalam bentuk verbal. Appell adalah permintaan yang ditujukan kepada orang lain. Sedangkan darstellung adalah penggambaran pokok masalah yang dikomunikasikan.
Wundt (1832-1920) ahli psikologi berkebangsaan Jerman, orang pertama yang mengembangkan secara sistematis teori mentalistik bahasa. Beliau menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran. Di samping itu, Wundt juga dikenal sebagai pengembang teori performansi bahasa (language performance). Teori ini didasarkan pada analisis psikologi yang dilakukannya terdiri dari dua aspek yaitu, 1. Fenomena luar yang berupa cipta bunyi, dan 2. Fenomena dalam yang berupa rentetan pikiran. Hal ini menujukkan bahwa analisis yang dibuat Wundt terhadap hubungan system fenomena linguistik (bahasa). Dengan kata lain, interaksi antara fenomena dalam akan dapat dipahami dengan lebih baik melalui pengkajian struktur bahasa.
Watson (1878-1958) ahli psikologi behaviorisme berkebangsaan Amerika, Beliau menempatkan prilaku berbahasa sama dengan prilaku atau kegiatan lainnya, seperti makan, berjalan, dan melompat. Pada mulanya Watson hanya menghubungkan perilaku berbahasa yang implisit, yakni yang terjadi di dalam pikiran, dengan yang eksplisit, yakni yang berupa tuturan. Namun, kemudiandia telah menyamakan berbahasa itu dengan teori stimulus respons (S-R) yang dikembangkan oleh Pavlov.
Weiss, ahli psikologi behaviorisme Amerika, Beliau mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun karena wujudnya tidak memiliki kekuatan bentuk fisik, maka terwujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukkan. Oleh karena itu, Weiss lebih cenderung mengatakan bahwa bahasa itu sebagai satu bentuk prilaku apabila seseorang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya.



3.      Kerja sama Psikologi dan Linguistik
Kerja sama secara langsung antara disiplin psikologi dan linguistik dimulai sejak 1860. Yaitu oleh Heyman Steinthal, seorang ahli psikologi yang yang beralih menjadi ahli linguistik, dan Moria Lazarus seorang ahli linguistik yang beralih menjadi ahli psikologi dengan menerbitkan sebuah jurnal yang khusus membicarakan masalah psikologi bahasa dari sudut linguistik dan psikologi.
Menurut Steinthal, sebuah ilmu psikologi tidak mungkin dapat hidup tanpa sebuah ilmu bahasa. Juga dikatakannya bahwa satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam akal manusia adalah melalui hukum-hukum asal bahasa dan bukan melalui pancaindra manusia. Kerja sama ini lebih erat dilakukanpada tahun 1901 di Jerman oleh Albert Thumb seorang ahli linguistik dengan Karl Marbe seorang ahli psikologi yang memnerbitkan buku Experimentelle Untersuchungen iiber die Psychologishen Grundlagen der Sprachlichen ana logiebieldung sebagai hasil kerja samanya. Secara khusus Thumb dan Marbe telah melakukan kajian yang mendalam mengenai bahasa dengan cara melakukan kerjasama antara analisis linguistik dari analogi dengan analisis psikologi dari hubungan pertuturan bahasa.
Dasar-dasar psikolinguistik menurut beberapa pakar di dalam buku yang disunting oleh Osgood dan Sebeok di atas adalah sebagai berikut:
1.      Psikolinguistik adalah satu teori linguistik berdasarkan bahasa yang dianggap sebagai sebuah system elemen yang saling berhubungan.
2.      Psikolinguistik adalah satu teori pembelajaran (menurut teori behaviorisme) berdasarkan bahasa yang dianggap sebagai satu system tabiat dan kemampuan kemampuan yang menghubungkan isyarat dengan perilaku.
3.      Psikolinguistik adalah satu teori informasi yang menganggap bahasa sebagai sebuah alat untuk menyampaikan suatu benda.
  Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik : Kajian Teoretik. Jakarta : PT Rineka Cipta

Psikologi dan Linguistik

1. Psikologi, Linguistik dan Psikolinguistik
1Psikologi
Secara etimologi kata psikologi berasal dari bahasa Yunani kuno psyche dan logos. Kata psyche berarti jiwa, roh, atau sukma, sedangkan kata logos berarti ilmu. Jadi psikologi secara harfiah berarti ilmu jiwa atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa. Dulu ketika psikologi masih merupakan bagian dari ilmu filsafat, defenisi bahwa psikologi adalah ilmu yang mengkaji jiwa masih dapat dipertahankan. Namun, kini istilah ilmu jiwa tidak lagi digunakan lagi karena bidang ilmu ini tidak meneliti jiwa atau roh, atau sukma sehingga istilah itu kurang tepat.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, psikologi lebih membahas atau mengkaji tentang sisi-sisi manusia dari segi yang bisa diamati. Dalam perkembangannya, psikologi telah terbagi menjadi beberapa aliran sesuai dengan paham filsafat yang dianut. Karena itulah dikenal adanya psikologi yang mentalistik, yang behavioristik, dan yang kognifistik.
Psikologi mentalistik melahirkan aliran yang disebut psikologi kesadaran yang bertujuan mencoba mengkaji proses-proses akal manusia dengan cara mengintrospeksi atau mengkaji diri. Oleh karena itu, psikologi kesadaran lazim juga disebut psikologi introspeksionisme. Psikologi ini merupakan suatu proses akal dengan cara melihat ke dalam diri sendiri sebagai suatu rangsangan yang terjadi. Psikologi yang behavioristik melahirkan aliran yang disebut psikologi prilaku. Tujuan utama psikologi prilaku ini adalah mencoba mengkaji proses-proses akal manusia yang berupa reaksi apabila suatu rangsangan terjadi, dan selanjutnya bagaimana mengawasi dan mengontrol prilaku itu. Psikologi kognifistik dan lazim disebut psikologi kognitif mencoba mengkaji proses kognitif manusia secara ilmiah. Yang dimaksud proses kognitif adalah proses-proses akal (pikiran, berpikir) manusia yang yang bertanggung jawab mengatur pengalaman dan prilaku manusia. Hal utama yang dikaji oleh psikologi kognitif adalah bagaimana cara manusia memperoleh, menafsirkan, mengatur, menyimpan, mengeluarkan, dan menggunakan pengetahuannya, termasuk perkembangan dan penggunaan pengetahuan bahasa.

1Linguistik
Secara umum linguistik lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Para pakar linguitik disebut linguis. Namun, kata linguis dalam bahasa Inggris juga berarti orang yang mahir menggunakan beberapa bahasa. Kalau dikatakan bahwa linguistik itu adalah ilmu yang objek kajiannya adalah bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri merupakan fenomena yang hadir dalam segala aktivitas kehidupan manusia, maka linguistik menjadi sangat luas bidang kajiannya. Oleh karena itu, kita bisa melihat adanya berbagai cabang linguistik yang dibuat berdasarkan berbagai kriteria atau pandangan.
Secara umum pembidangan linguistik itu adalah sebagai berikut.
Pertama, Menurut objek kajiannya, Linguistik dapat dibagi atas dua cabang besar yaitu linguistik makro dan linguistik mikro. Objek kajian linguistik makro adalah struktur internal sendiri yang mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Sedangkan linguistik mikro bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa seperti faktor sosiologis, psikologis, antropologi, neurologi. Kedua, menurut tujuan kajiannya, linguistik dapat dibedakan atas dua bidang besar yaitu linguistik teoritis dan linguistik terapan. Kajian teoritis hanya ditujukan untuk mencari atau menemukan teori-teori linguistik belaka. Ketiga, adanya yang disebut linguistik sejarah, mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa atau sejumlah bahasa, baik dengan diperbandingkan maupun tidak. Yang kedua sejarah linguistik, mengkaji perkembangan ilmu linguistik, mengkaji perkembangan ilmu linguistik, baik mengenai tokoh-tokohnya, aliran-aliran teorinya, maupun hasil-hasil kerjanya.
Dalam kaitannya dengan psikologi, linguistik lazim diartikan sebagai ilmu yang mencoba mempelajari hakikat bahasa, struktur bahasa, bagaimana bahasa itu berkembang.

1Psikolinguistik
Secara etimologi sudah disinggung bahwa kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda yang masing-masing berdiri sendiri dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materinya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa.
Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kamampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia (Solbin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973). Maka secara teoritis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.

2.      Subdisiplin Psikolinguistik
Psikolinguistik telah berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin Psikolinguistik. Diantara subdisiplin itu adalah sebagai berikut :
1.      Psikolinguistik Teoritis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misanya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.
2.      Psikolinguistik Perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2).
3.      Psikolinguistik Sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek social bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa bukan hanya merupakan satu gejala dan identitas sosial saja. Tetapi merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan.
4.      Psikolinguistik Pendidikan
Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah.
5.      Psikolinguistik Neurologi(Neuropsikolinguistik)
Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak, serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu.


6.      Psikolinguistik Eksperimen
Subdisiplin ini meliputi dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.
7.      Psikolinguistik Terapan
Subdisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik di atas ke dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk subdisiplin ini adalah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman. Pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi, dan sastra.

3.      Induk disiplin Psikolinguistik
Karena psikolinguistik merupakan gabungan dari psikologi dan linguistik, maka timbul pertanyaan apa induk disiplin psikolinguistik, linguistik atau psikologi. Beberapa pakar beranggapan bahwa psikolinguistik itu adalah cabang dari disiplin psikologi karena nama psikolinguistik itu telah diciptakan untuk menggantikan nama lama dalam psikologi, yaitu psikologi bahasa. Ada pula pakar linguistik yang mengatakan bahwa psikolinguistik itu adalah cabang dari disiplin induk linguistik karena bahasa adalah objek utama yang dikaji oleh pakar‑pakar linguistik dan pakar psikolinguistik mengkaji semua aspek bahasa itu. Di Amerika Serikat psikolinguistik pada umumnya dianggap sebagai cabang linguistik, meskipun ada juga yang menganggap bahwa psikolinguistik merupakan cabang dari psikologi. Chomsky sendiri menganggap psikolinguistik itu sebagai cabang dari psikologi. Di Prancis pada tahun 60‑an psikolinguitik pada umumnya dikembangkan oleh pakar psikologi sehingga menjadi cabang psikologi. Di Inggris psikolinguistik semula dikembangkan oleh pakar linguistik yang bekerja sama dengan para pakar dalam bidang psikologi dari Inggris dan Amerika Serikat. Di Rusia, psikolinguistik dikembangkan oleh pakar linguistik di Institut Linguistik Moskow, sedangkan di Rumania kebanyakan pakar beranggapan bahwa psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri sekalipun peranannya banyak di bidang linguistik.
Tampaknya di Indonesia psikolinguistik dikembangkan dibidang linguistik pada fakultas pendidikan bahasa dan belum pada program nono kependidikan bahasa. Psikolinguistik yang dikembangkan dalam pendidikan bahasa sudah seharusnya diserasikan dengan perkembangan linguistik dan perkembangan psikologi. Untuk itu dituntut adanya penguasaan yang seimbang akan teori psikologi. Lalu yang patut dikembangkan dalam pendidikan bahasa adalah subdisiplin psikolinguistik perkembangan dan psikolinguistik pendidikan. (Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik : Kajian Teoretik. Jakarta : PT Rineka Cipta)