Kamis, 11 September 2014

Fonetik

Fonetik adalah bagian dari linguistik yang mempelajari proses ujaran.Fonetik menyelidiki bunyi-bunyi bahasa,tanpa memperhatikan fungsinya untuk membedakan arti fonetik.Studi fonetik ini umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1.       Akustik (acoustic phonetics)
Fonetik akustik ialah menyelidiki bunyi bahasa menurut aspek-aspek fisisnya sebagai getaran udara,misalnya apabila kita memetik gitar,maka tali gitar (senar) akan bergetar,sehingga menyebabkan udara bergetar pula dan terjadilah bunyi yang dapat kita dengar.demikian pula halnya dengan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan alat-alat bicara. Fonetik akustik dan penyelidikan spesialistis perlu peralatan yang rumit seperti spektograf yang memperlihatkan intensitas dan volume ujaran,jadi penyelidikan tersebut dapat dikerjakan hanya dalam laboratorium fonetik. Dengan demikian para linguis bisa menggambarkan bunyi-bunyi tadi secara fisik.
2.       Auditoris (auditory phonetics)
Fonetik auditoris ialah penyelidikan mengenai cara penerimaan bunyi-bunyi bahasa oleh telinga. Fonetik auditoris tidak banyak dikerjakan dalam hubungan dengan linguistik,melainkan dituntun  dalam ilmu kedokteran.
3.       Organis atau artikulasi (articulatory phonetics)
Fonetik organis atau artikulasi ialah menyelidiki bagaimana bunyi-bunyi bahasa dihasilkan dengan alat-alat bicara (paru-paru, batang tenggorokan, pangkal tenggorokan, pita-pita suara, rongga kerongkongan, akar lidah, pangkal lidah, tengah lidah, daun lidah, ujung lidah, anak tekak, langit-langit lunak, langit-langit keras, lengkung kaki gigi, gusi, gigi atas, gigi bawah, bibir atas, bibir bawah, mulut, rongga mulut, rongga hidung). Bidang ini yang terpenting untuk linguistik.
Cara bekerja alat-alat ini adalah udara dipompakan dari paru-paru melalui batang tenggorokan kepangkal tenggorokan yang didalamnya terdapat pita-pita udara.Pita-pita suara harus terbuka untuk memungkinkan arus suara keluar melalui rongga hidung atau melalui kedua-duanya,karena dalam batang tenggorokan untuk arus udara tidak ada jalan lain. Apabila udara keluar tanpa mengalami hambatan disana-sini, kita tidak mendengar apa-apa. Bunyi bahasa dihasilkan hanya bila arus udara terhalang oleh alat bicara tertentu. Beberapa jenis hambatan terjadi dan menghasilkan bunyi :
1.         Antara pita suara;yang dihasilkan adalah bunyi bersuara (Voiced sound).
2.       Antara akar lidah dan dinding belakang rongga kerongkongan, yang dihasilkan ialah bunyi faringal;misalnya [h]
3.       Antara pangkal lidah dan anak tekak, hasilnya bunyi uvular;misalnya [r]
4.       Antara pangkal lidah dan langit-langit lunak,hasilnya bunyi dorso velar;misalnya [k, g. n. x]
5.       Antara tengah lidah dan langit-langit keras, hasilnya bunyi medio laminal; [3, t, d]
6.       Antara daun lidah dan langit-langit keras, hasilnya bunyi lamino alveolar,misalnya [s, z]
7.       Antara ujung lidah dan langit-langit keras, hasil bunyinya apiko palatal atau “retrofleks” ; misalnya [d] dalam kata jawa dhateng
8.       Antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, hasil bunyinyaapiko avolar; misalnya [t, d]
9.        Antara ujung lidah dan gigi atas, hasil bunyinya apiko-dental,misalnya [O] dalam kata Inggris thin
10.    Antara gigi atas dan bibir bawah, hasilnya labio-dental; misalnya [f, v]
11.      Antara bibir atas dan bawah hasilnya bunyi dwibibir atau bilabial; misalnya [p, b, w]
Kita harus membedakan bunyi konsonan dan bunyi vokal terjadilah aluran sempit antara pita suara dan tidak ada halangan lain ditempat lain pada waktu yang sama. Alur sempit antara pita suara tadi menyebabkan pita itu bergetar dan getaran itu menyebabkan udara keluar bergetar pula,karena itu semua vokal merupakan bunyi bersuara [e, i, o, u, a].
Konsonan ada yang bersuara, terjadi bila ada alur sempit diantara pita suara dan tidak ada yang  bersuara,terjadi apabila tempat artikulasi yang bersangkutan sajalah yang merupakan alur sempit sedang pita suara itu terbuka agak lebar.
Selain bunyi vokal dan konsonan, kita juga mengenal yang disebut bunyi semi vokal, yaitu [w] dan [j] sebenarnya termasuk konsonan tetapi kualitasnya tidak hanya ditentukan oeh alur sempit kedu,yaitu alur sempit selain dari aluran diantara pita suara tetapi dibangun mulut.
Beberapa konsonan,seperti [m] dan [I] dalam posisi tertentu mirip vokal bunyi demikian selabis. Kita juga mengenal beberapa vokal yang digolongkan sebagai vokal rangkap dua atau diftong. Contoh Diftong:
au – kalau
au – daun
ai – balai
ai – air
Diftong- diftong sering dibedakan menurut perbedaan tinggi rendahnya dari unsur-unsurnya, yaitu diftong turun.dalam bahasa Indonesia hanya ada diftong naik, sedangkan diftong turun terdapat dalam bahasa Inggris ear.


Profesi, Profesional, dan Profesionalisme

   *       Profesi 
Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek. Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Profesi adalah pekerjaan tetap bidang tertentu berdasarkan keahlian khusus yang dilakukan secara bertanggung jawab dengan tujuan memperoleh penghasilan. Nilai moral profesi (Franz Magnis Suseno,1975) :
1.        Berani berbuat untuk memenuhi tuntutan profesi
2.        Menyadari kewajiban yang harus dipenuhi selama menjalankan profesi
3.        Idealisme sebagai perwujudan makna misi organisasi profesi
            Menurut PIET (1994 : 26), Profesi adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka (to profess artinya menyatakan) yang menyatakan bahwa seseorang itu mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan karena orang tersebut merasa terpanggil atau menjabat pekerjaan itu. Sementara EVERET HUGHER (dalam Piet, 1994 : 26) mengatakan bahwa profesi merupakan simbol dari suatu pekerjaan dan selanjutnya menjadi pekerjaan itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1996 : 789) bahwa profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi oleh pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu. Sedangkan Webster’s New World Dictionary (dalam Oteng : 1983) menyebutkan bahwa profesi sebagai suatu pekerjaan yang meminta pendidikan tinggi dalam liberal arts atau sains, dan biasanya meliputi pekerjaan mental, bukan pekerjaan manual atau pekerjaan kasar, seperti mengajar, keinsinyuran, mengarang, dan seterusnya. Menurut OTENG (1983 : 52) suatu profesi mempunyai suatu keharusan tinadakan bersama yang teratur sering dipandang sifat status profesi yang paling menonjol. Dengan demikian, suatu profesi adalah lebih dari sekelompok individu yang berwenang. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer,teknikdan desainer. Menurut DE GEORGE, Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
Berikut beberapa catatan tentang profesi, sebagai pelayan masyarakat ditinjau dari sudut pandang bidang keilmuan masing-masing penulis:
1.        Reader (jenis profesi dari sudut pandang sejarawan): Dalam perjalanan sejarah, hanya ada 3 (tiga) jenis profesi yang liberal yakni dibidang : kerohanian, fisik dan hukum.
Pengertian fisik dalam tulisan Reader mengacu pada profesi kedokteran dan pelayan kesehatan lainnya.
2.        Hakim Brandeis memberikan pengertian profesi sebagai : pekerjaan yang awalnya memerlukan pelatihan intelektual, yang menyangkut pengetahuan sampai tahap tertentu (kesarjanaan), yang berbeda dari sekedar keahlian atau kecakapan semata. Pekerjaan ini bukan hanya demi diri sendiri tapi sebagian besar demi kebaikan (pro bono) orang lain (bersifat altruistis), dan imbalan tidak diterima sebagai ukuran keberhasilan. Ada beda mendasar antara pengetahuan dan keahlian seorang profesional. Sasaran profesional adalah kebaikan klien. Kebaikan ada didalam pengetahuan. Kebaikan memiliki kekuatan dan fungsi untuk mengatur perolehan dan penerapan ilmu, sedang keahlian merupakan pengetahuan yang diterapkan oleh praktisi untuk melayani suatu tujuan. Pengertian profesi dari Brandeis lebih ditekankan pada ’motivasi’ sebagai netralitas moral keahlian sebagai ’ciri’ seorang profesional.
3.        Menurut Lebacqz, pengertian ‘memiliki keahlian khusus’ menimbulkan kerancuan pada istilah ‘profesi’ ataupun ‘profesional’ contohnya: karena memiliki keahlian dalam berdagang, maka pedagang merasa diri seorang profesional.
4.        Larson menuliskan bahwa, peradaban membawa konsekuensi munculnya karakteristik yang hanya dapat dipahami oleh kelompok (peer) tertentu. Larson mencatat bahwa profesi tertentu mengembangkan karakteristik-karakteristik yang istimewa (distingtif) di Inggris dan Amerika Serikat dan diyakini akan terjadi di belahan dunia lainnya. Penggunaan terma distingtif dalam kaitannya dengan pemahaman pihak di luar komunitas profesi bersangkutan.
5.        T.D Hall & C.M Lindsay (membahas perilaku anggota profesi dari sudut pandang ekonom) menyatakan bahwa, profesi merupakan bentuk perdagangan yang terorganisir dengan dalih bekerja untuk kesejahteraan umum.
6.        Goede mengatakan bahwa, perilaku para anggota profesi tidak mencerminkan rasa empati kepada yang perlu dilayani meskipun selalu menonjolkan ideal pelayanan kepada masyarakat.

*       Profesional
Kata Profesional berasal dari profesi yang artinya menurut Syafruddin Nurdin, diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut di dalam science dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk di implementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat. Dalam UU RI, Nomor 14 Tahun 2005 menyebutkan bahwa kata Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi atandar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Persyaratannya menurut Uzer Usman adalah:
1.        Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.
2.        Menemukan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
3.        Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai.
4.        Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan.
5.        Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
6.        Memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
7.        Memiliki klien/objek layanan ysng tetap, seperti guru dengan muridnya.
8.        Diakui oleh masyarakat, karena memang jasanya perlu dimasyarakatkan.
Dari pengertian di atas, bahwa profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut, profesi juga memerlukan keterampilan melalui ilmu pengetahuan yang mendalam, ada jenjang pendidikan khusus yang mesti dilalui sebagai sebuah persyaratan. Dari keterangan di atas kemudian diajukan pertanyaan “lalu apakah professional itu?” Untuk memberikan kesimpulan dari pengertian profesional sedikitnya menurut Harefa ada tiga belas indikator sehingga seseorang dikatakan sebagai profesional yaitu:
1.    Bangga pada pekerjaan, dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas,
2.    Berusaha meraih tanggunjawab;
3.    Mengantisipasi, dan tidak menunggu perintah, mereka menunjukkan inisiatif;
4.    Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas;
5.    Melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar bertahan pada peran yang telah ditetapkan untuk mereka;
6.    Selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang mereka layani;
7.    Ingin belajar sebanyak mungkin;
8.    Benar-benar mendengarkan kebutuhan orang-orang yang mereka layani;
9.    Belajar memahami dan berfikir seperti orang-orang yang mereka layani sehingga bisa mewakili mereka ketika orang-orang itu tidak ada di tempat;
10.  Mereka adalah pemain tim;
11.  Bisa dipercaya memegang rahasia;
12.  Jujur bisa dipercaya dan setia
13.  Terbuka terhadap kritik-kritik yang membangun mengenai cara meningkatkan diri.
Dari indikator yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa Profesional itu adalah seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk melakukan satu bidang kerja dengan hasil kualitas yang tinggi berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya tentang objek pekerjaannya tersebut. Jika disandangkan kata profesional kepada guru, maka menurut Danim, “guru profesional adalah guru yang memiliki kompotensi tertentu sesuai dengan persaratan yang dituntut oleh profesi keguruan”.
*       Profesionalisme
Menurut WIGNJOSOEBROTO (1999), Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan serta ikrar (fateri/profiteri) untuk menerima panggilan tersebut untuk dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan ditengah gelapnya kehidupan. Empat prespektif dalam mengukur profesionalisme menurut Gilley dan Enggland :
a.         Pendekatan berorientasi Filosofis Pendekatan lambang profesional,pendekatan sikap individu dan pendekatan electic.
b.        Pendekatan perkembangan bertahap individu (dengan minat sama) berkumpul -> mengidentifikasi dan mengadopsi ilmu -> membentuk organisasi profesi -> membuat kesepakatan persyaratan profesi -> menentukan kode etik -> merevisi persyaratan.
c.         Pendekatan berorientasi karakteristik etika sebagai aturan langkah,pengetahuan yang terorganisir, keahlian dan kompetensi khusus,tingkat pendidikan minimal,sertifikasi keahlian.
d.        Pendekatan berorientasi non-tradisional mampu melihat dan merumuskan karakteristik unik dan kebutuhan sebuah profesi.


DAFTAR PUSTAKA

Amir Daen, 1973. Pengantar Ilmu Pendidkan. Surabaya: Usaha Nasional,  h.. 167
Brandeis, Louis, 1933. Business-A Proffesion.. Boston: Hale, Cushman & Flint.
Goede, William.J, Community within a Community, The Professions, American Sociological Review 22.
Hall, TD & Lindsay C.M, April 1980. Medical School: Producers of What? Seller of Whom?,  Journal of Law and Economic 23.
Larson, 1977. Magali Sarfatti, The Rise of Professionalism : A Sociological Analysis.  Berkeley : University of California Press.
Lebaqz, Karen, 1985. Professional Ethics: Power and Parado. Nashville Tenessee: Abingdon Press.
Reader,W.J, 1966. Professional men: The Rise of Professional Classses in Nine-teenth Century England. London: Weidenfeld & Nicholson.
Samana, A. (1994). Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius.
Usman, Uzer. (1989). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remadja Rosdakarya.

Rabu, 10 September 2014

Manajemen Kelas

Manajemen dari kata “Management. Diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan. Maksud manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif. Terdapat beberapa defenisi tentang manajemen kelas berikut ini :
1.  Berdasarkan Konsepsi Lama Dan Modern
Menurut konsepsi lama, manajemen kelas diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Menurut konsepsi modern manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tetap terhadap problem dan situasi manajemen kelas (Lois V. Jhonson dan Mary Bany, 1970)
2. Berdasarkan Pandangan Pendekatan Operasional Tertentu ( Disarikan dari Wilford A. Weber 1986 )
1.  Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin (Pendekatan Otoriter).
2.  Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi (Pendekatan Intimidasi).
3.  Seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa (Pendekatan Permisif).
4.  Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan (Pendekatan Masak).
5.  Seperangkat kegiataan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik (Pendekatan Instruksional).
6.  Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan (Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku).
7.  Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersional yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif (Pendekatan Penciptaan Iklim Sosioemosional).
8.  Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif (Pendekatan Sistem Sosial)
Sementara M. Manulang, mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan manajemen adalah: Manajemen adalah seni dalam ilmu perencanaan, pengorgansiasian, penyusunan, pergerakan dan pengawasan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Dalam pendapat yang sama Terry seperti dikutip Djati S., juga mengatakan bahwa manajemen adalah soal proses tertentu yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan penggunaan setiap ilmu dan seni bersama-sama dan selanjutnya menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan.
Ada sebahagian pendapat yang menyatakan bahwa kata pengelolaan juga sangat identik dengan kata manajemen. Hal tersebut diakibatkan oleh derasnya penambahan kata pungut ke dalam bahasa Indonesia. Olehnya itu penyusun sengaja menguraikannya.
Menurut Drs. Winarno Hamiseno, pengelolaan kelas adalah suatu tindakan yang dimulai dari penyusun data, merencana, mengorganisasikan, melaksanakan sampai dengan pengawasan dan penilaian.
Namun demikian, manajemen kelas ialah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan        menguntungkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan. Seperti yang dikatakan oleh Allan C. Orriesstein, Daniel V. Levinne, mengatakan dalam bukunya An Introduction to the Foundations of Educations, tentang arti sebuah tujuan dikatakannya:
“Aims are important guides in educations, although they cannot be directly or evaluated; they are statements that cannot a desired and valued competency, a theme or concern that applied to education in general.
Artinya:
Tujuan adalah petunjuk yang penting dalam pendidikan walaupun mereka secara langsung tidak dapat diamati dan dievaluasi; mereka membuat pernyataan yang mengandung keinginan dan kompetensi, tema atau soal tersebut merupakan pemahaman penerapan di dalam pendidikan secara umum.


Tujuan manajemen kelas
1.   Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, bai sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2.   Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3.   Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan social, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
4.   Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen tahun 1996 : 2)


Aspek, Fungsi, dan Masalah Manajemen Kelas
Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiaknosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajenen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan seleksi dan kreatif ( Lois V.Johnson dan Mary A.Bany, 1970 ).
1.   Manajenen kelas selain memberi makna penting bagi tercipta dan terpeliharanya kondisi kelas yang optimal, manajenen kelas berfungsi :
Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti : membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerjasama dalam menemukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerjasama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, merubah kondisi kelas.
2.   Memelihara agar tugas – tugas itu dapat berjalan lancar.
Masalah manajenen kelas dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu : masalah individual dan masalah kelompok.
Munculnya masalah individual disebabkan beberapa kemungkinan tindakan siswa seperti :
1.   Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain.
2.   Tingkah laku yang ingin menujukkan kekuatan.
3.   Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain.
4.   Peragaan ketidakmampuan.
Sedangkan masalah-masalah kelompok yang mungkin muncul dalam kelas :
1.   Kelas kurang kohesif lantaran alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.
2.   Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakai sebelumnya.
3.   Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
4.   “Membombang” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
5.   Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari yang tengah digarap, semangat kerja rendah, kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru seperti gangguan jadwal guru terpaksa diganti sementara oleh guru lain. (Lois V.Johnson dan Mary A.Bany, dalam M.Entang dan T.Raka Joni1983).


Prinsip-prinsip dalam Manajemen Kelas
“Secara umum faktor yang mempengaruhi manajemen kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa.” (Djamarah 2006:184). Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian siswa denga ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya sacara individual. Perbedaan sacara individual ini dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.
Faktor ekstern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik.
Djamarah (2006:185) menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan.” Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut.
a.  Hangat dan Antusias
Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b.  Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
c.  Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
d.  Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajarmengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.
e.  Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negative. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f.  Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.
 
Daftar Pustaka
Allan C. Ornstein, Daniel V. Levinne, An Introduction to the Foundations of Educations, Edisi III (Boston: Hougthon Mifflin Company, 1984), h. 446.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar Jakarta: 1996), h. 1.
Djati Julitriarsa, John Suprihanto, Manajemen Umum Sebuah Pengantar, Edisi I (Cet. III; Yogyakarta: BPFE, 1998), h. 3.
M. Manulang, Dasar-dasar Manajemen Cet. XV; Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996),            h. 15.
Rachman, Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Winarno Hamiseno, Pengelolaan Kelas dan Siswa (Cet. IV; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1986), h. 8.
http://one.indoskripsi.com/node/10486